Rabu, 16 Maret 2011

Media Sebagai Cermin Kecantikan Perempuan


Media tidak dipungkiri telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern saat ini. Media seolah seperti makanan yang menjadi konsumsi masyarakat setiap hari. Sebut saja, membaca koran/majalah, mendengarkan radio, nonton TV, dan update facebook/twitter. Dengan kata lain, media merupakan kebutuhan setiap orang, termasuk kalangan perempuan.
Sudah bukan rahasia lagi jika pada umumnya perempuan cenderung membandingkan dirinya dengan image perempuan yang digambarkan oleh media, terutama majalah dan televisi. Televisi dan majalah di Indonesia mengkonstruksi image perempuan cantik sebagai sosok perempuan berambut panjang lurus, kulit putih mulus, tidak berjerawat, tubuh langsing, dan mohon maaf dada besar. Pada dasarnya image media akan cenderung membentuk opini publik, sehingga tidak mengherankan jika hampir semua perempuan berpikir memang seperti itulah takaran kecantikan yang sesungguhnya. Para perempuan kebanyakan berusaha menyamakan ciri fisiknya seperti yang ditampilkan media agar dapat dipandang sebagai perempuan cantik. Jika sudah begini, salon dan spa menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Misalnya saja ketika hair-rebounding dan hair-smoothing sedang panas-panasnya menjadi tren di kalangan perempuan, keuntungan bisnis salon naik hingga berkali-kali lipat.
Sementara itu, agar bisa memiliki kulit putih yang diidam-idamkan, banyak perempuan terutama remaja putri yang memakai produk pemutih kulit mulai dari merek A sampai Z, yang katanya bisa memutihkan kulit dalam tujuh hari. Begitu juga produk pelangsing yang terdengar fantastis karena bisa menurunkan berat badan sekian kilogram dalam seminggu. Banyak perempuan yang terjebak oleh promosi produk seperti itu, sehingga menjadi tidak jeli memilih produk yang aman untuk digunakan. Tak jarang para perempuan membeli produk pemutih atau pelangsing murahan yang ternyata mengandung zat kimia berbahaya. Hal ini sangat fatal sebab kesehatan yang menjadi taruhan. Untuk apa cantik jika tidak sehat. Inilah media, pengaruhnya bisa sangat luar biasa. Apalagi perempuan cenderung cepat percaya dan terjebak dalam pemikiran yang sempit.
Oleh karena itu, perlu bagi kita – perempuan -- untuk mulai bersikap lebih kritis terhadap media. Tidak selamanya apa yang disajikan media itu mutlak benar. Sebenarnya kalau kita mau sedikit membuka wawasan, image perempuan cantik yang ditampilkan oleh media Indonesia itu berbeda dengan negara-negara lain. Misalnya Amerika, media di sana menciptakan image perempuan cantik sebagai sosok perempuan berkulit gelap (tan), berambut keriting ombak, dan bertubuh sensual.  Inilah alasan mengapa banyak perempuan bule yang berjemur di pantai atau ke salon untuk tanning.
Dengan kata lain, tidak ada ukuran yang pasti mengenai kecantikan. Perspektif media membuat kita terpaku pada takaran fisik dan bukan takaran personal. Akibatnya, untuk perempuan yang mohon maaf fisiknya bertubuh besar, berkulit gelap, dan berambut keriting, menjadi kehilangan sense of beauty sehingga mereka tidak tampil percaya diri karena menganggap dirinya tidak cantik. Padahal kecantikan dapat pula diukur dari kecerdasan, kepribadian, dan keimanan.
Perspektif media ini susah untuk diubah, tapi kita – perempuan -- selalu dapat memilih. Kita boleh menjadikan media sebagai cermin kecantikan kita dan kita akan sibuk untuk berdandan sedemikian rupa -- make over -- sana-sini, atau kita memilih untuk lebih percaya pada diri sendiri, tampil apa adanya, dan yakin bahwa setiap perempuan selalu memiliki inner-beauty yang membuat kita spesial daripada perempuan yang lain. It’s up to you girls!     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar